Rabu, 05 November 2014

Sepeda Motor

Sepeda motor adalah benda yang tak asing bagiku, karen semenjak kecil Aku sudah menyukai kendaraan roda dua ini. Namun baru Aku memilikinya saat memasuki kelas dua Sekolah Menengah atas ketika anak-anak di daerahku sudah membawa motor ke sekolah.

Ada cerita mengapa Aku baru bisa memiliki motor saat usiaku baru akan menginjak tujuh belas tahun, dari cerita ibuku akhirnya Aku tahu dahulu Ayahku mengalami kecelakaan yang cukup saat mengendarai motor dan dampaknya masih terasa hingga usianya yang sudah senja kini. Dampaknya yang Aku tahu Ia sedikit kehilangan keseimbangan ketika mengemudi mobil, Ayah tak dapat mengambil lajur kanan terlalu lama ketika melaju di jalan bebas hambatan dan efek lainnya adalah sering merasakan pusing.

Saat Aku memasuki bangku sekolah menengah pertama beberapa anak yang cukup dianggap mampu secara ekonomi sudah membawa motor, adalah seorang teman sekelasku, Toni. Ia membawa sebuah motor keluaran Yamaha baru dan gress, F 1 ZR. Berwarna merah, menggunakan velg racing silver berbentuk bintang dan menggunakan kopling manual. Seingatku itu adalah motor bebek paling oke pada zamannya sangat sporty dibandingakan dengan motor bebek lainnya dan tentu saja langsung menjadi barang dagangan paling laris pabrikan berlambang garpu tala itu.

Toni merupakan anak dari seorang saudagar beras terkenal di daerahku orangtuanya juga memiliki sebuah rumah makan. Aku dan Toni cukup dekat sehingga Aku cukup sering bermain bersama tentunya mengendarai motor merah miliknya itu. Dengan kemurahan hatinya juga Aku mengendarai motor walau Aku memang sudah diwanti-wanti oleh orang tuaku untuk mengendarai motor.

Lambat laun ibuku mengetahui Aku sering mengendarai motor dan dinasihati agar menghentikan aktifitasku. Sebetulnya kehawatiran ayah dan ibu sangat masuk akal selain trauma akan kecelakaan yang menimpa Ayah dahulu alasan lainnya karena kami tinggal di jalur tengkorak pulau jawa dan remaja yang mengendarai motor itu sebagian ceroboh dan ugal-ugalan tak luput menjadi korban.

Ayah dan ibu sangat menghawatirkan aku yang sering mencuri kesempatan mengendarai motor Toni dan akhirnya pada suatu hari Ayah bicara padaku akan kehawatirannya dan menegaskan kembali melarangku mengndarai motor Aku kecewa, karen sebetulnya Aku menginginkan sepeda motor juga sama seperti milik Toni. Ayah dan Ibuku sebetulnya mampu untuk membelikanku sebuah motor tapi mereka tidak memberikannya padaku.

" Ayah hawatir nak, kamu sering mengendarai motor. Bukannya Ayah tak mau membelikan tapi kamu tahu mobil yang melintas adalah kendaraan berat dan kencang " begitulah Ayah menasihati, Aku hanya diam menunduk.
" Ayah sudah merasakan sendiri akibatnya, dan tidak mau terulang padamu" Aku masih tertunduk menahan kekecewaanku.
" Motor tidak memberikan perlindungan sama sekali buat kmu, sedikit terserempet saja kmu bisa terpelanting jauh, daripada kamu pakai motor kamu lebih baik belajar mobil karena lebih aman " Kalimat terakhir yang di ucapkan Ayah sedikit membuatku kaget bercampur gembira dan tak percaya Aku dilaranga mengendarai motor tapi diizinkan untuk mengemudikan mobil.
" beneran Yah? " tanyaku memotong pembicaraannya, tentunya Aku girang bukan kepalang.
" Iya " sahutnya mendengar pertanyaanku.

Selanjutnya Aku sering berlatih mengemudi dan saat memasuki kenaikan kelas Aku sudah cukup mahir,  oops maaf kawan sedikit melebar tapi memang Aku lebih dahulu diizinkan mengamudikan mobil dibandingkan mengendarai motor.

Memasuki Sekolah Menengah Atas Aku masih belum di berikan izin untuk memiliki motor, sampai pada suatu saat ketika Aku telah duduk di bangku kelas dua Ayah memanggilku. Saat itu yang Aku pikirkan mungkin Ayah akan menanyakan masalah akedemik tapi dugaanku meleset karena Ayah memberitahukanku bahwa beliau telah membelikanku sepeda motor.
Sepeda motor itu akhirnya datang juga, bermerk Sanex. tentunya engkau yang tumbuh dan dewasa di tahun 2000a tidak asing dengan merk ini sebuah merk yang berasal dari negeri Cina bentuknya merupakan kloning dari Honda Supra X uniknya motor itu berwarna emas kawan bling bling bukan?
 Motor yang dinantikan hatiku senang, namun ada pesan dari Ayahku isinya adalah agar aku berhati-hati dalam mengendarainya, yang kedua kondisi sepeda motor itu jangan dirubah. Sebagai ABG tentunya bukan ABABIL jiwa mudaku masih bergelora, untuk kebut-kebutan okelah aku tidak begitu bernafsu tapi untuk membiarkan motor bertampang standard menjadi masalah buatku waktu itu.

Mempreteli body motor di usiaku saat itu bahkan untuk ABG zaman sekarang masih tergolong UP DATE, langkah awal mempreteli motorku cukup dengan mecopot kedua spion kawan karena sebagaimana kalian tahu spion standar sama sekali tidak modis bahkan beberapa kawanku menyebut sebagai spion doa dikarenakan bentuknya seperti tangan orang yang sedang  berdoa menengadah ke atas. Senin sampai dengan sabtu pagi semua berjalan aman karena Ayahku bekerja di kota lain tak sama dengan tempat kami tinggal, sabtu sore adalah jadwal Ayahku pulang dan Aku harus bergegas kembali memasangkan spion doa itu betul saja kawan begitu datang beliau menanyakan bagaimana motornya?
"gimana motornya?" tanya Ayahku sambil melihat kondisi motor
"Alhamadulillah enak dipakenya" jawabku
Tak panjang pembicaraan kami karena memang Ayahku yang irit bicara mungkin lebih irit dari mobil murah ataupun mobil hybrid yang sekarang sedang laris manis kaya teh botol.

Ayahku tipe orang yang ortodok untuk penampilan mobil atau motor karena menurutnya kendaraan yang nayaman digunakan adalah yang standard pabrikan tak perlu di ini itu kan lagi, sayang sekali anaknya tak seperti itu dan maaf kan Aku Pak aku selalu membohongimu di hari kerjamu. suatu ketika Aku terkena batunya sepulang sekolah aku tertidur dan sorenya di hari sabtu itu Ayahku sudah datang dan woops Ayahku yang pendiam itu menjadi lebih diam dan lebih dingin dari es batu. Kalaulah sudah begitu Ibuku menasihatiku katanya "motor yang diberikan Ayahku untuk macam-macam" dan Aku hanya bisa medndengarkan dengan seksama dan tempo sesingkat-singkatnya. Karena setelah itu kasus pencopotan spion terulang kembali dengan modus yang sama.

Menginjak kelas 3 SMA, Aku mendapatkan motor idamanku dahulu yaitu Yamaha F 1 ZR, warnanya hitam  tahun pembuatan 1999. Jujur sebetulnya agak kewalahan juga mengurusi motor jenis 2 langkah ini dikarenakan sebagai ABG Aku memiliki frekwensi nongkrong yang lumayan sering dan terkadang menjadi motor inventaris tongkrongan maka terasalah bagiku rasanya menikmati motor 2 langkah yang boros.

sampai saat ini Aku masih menggunakan motor untuk menunjang aktifitasku, Honda Supra X 125 inventaris kantor menjadi andalan bukan karena tidak mampu membeli motor tapi memang tidak ada uangnya. Bermotor bagiku hal yang mengasikkan selain irit dan gesit bermotor juga mendekatkan diri dengan alam karena ketika melewati pedesaan Aku bisa menikmati segarnya udara desa apalagi tempatku bekerja di pegunungan dan ketika Aku berada di belakang bus atau truck aku juga bisa merasakan sesaknya Co2, hey hidup ga semuanya indah dan segar seperti alam pedesaan tapi juga ada sesaknya seperti kamu menunggangi motor dibelakang bus atau truk yang sudah tidak bagus lagi pembakarannya mengeluarkan asap hitam yang menyesakkan dada.






Jumat, 19 September 2014

Sebuah Peristiwa di Hari Spesial


Masih terbayang olehku kejadian hari itu hingga kini, tak akan dan pasti akan tersimpan dalam tumpukan ingatanku, hal yang sangat mengerikan mungkin selama ini hanya ke lihat di layar televisi, Aku yakin jika engkau menyaksikannya langsung sepertiku kaupun akan menganggapnya mengerikan pula

Hari itu sama seperti hari minggu yang lainnya bagimu kawan tapi tidak bagiku hari yang spesial, tepat tiga puluh tahun yang lalu untuk pertama kalinya menghirup udara segar, merasakan hangatnya sinar mentari pagi. Ya hari minggu sembilan maret dua ribu empat belas adalah hari ulang tahunku.

Sebuah kecupan dan ucapan selamat dari istriku membuka hari itu, ku lempar pandanganku ke sisi lain ranjang anakku masih terlelap. Sangat indah bukan, momen spesial ditemani oleh orang tercinta. Belum juga aku beranjak suara BlackBerry Messenger terdengar dari ponselku yang bukan bermerk sama dengan layanan instan yang aku pasang, aku buka sebuah ucapan selamat dari seorang kawan. Andry Wahyudi adik angkatanku saat kuliah Ia juga adik dari kawanku Hary Kusuma, Ia mengucapkan selamat atas bertambahnya umurku disertai doa dan ku balas dengan ucapan terimakasih serta ucapan selamatku atas kemenangan tim sepkabola yang ia idolakan, tak hanya Andry kawan-kawan dan saudaraku hari itu silih berganti mengucapkan selamat.

Hari itu bukan lah minggu yang cerah, sedikit awan hitam bergelayut di atas langit cirebon. Tak ada rencana khusus untukku di hari spesial itu, mencuci si hitam adalah rencanaku. sudah beberapa hari ia tak mandi tentunya berdampak pada penampilannya yang menjadi kurang menarik. Semula aku akan memandikannya sendiri tetapi aku urung melakukannya karena Adit, anakku yang sudah terbangun dan sedang menonton kartun kesayangannya menanyakan apa yang akan ku lakukan ketika aku membawa peralatan cuci mobil.

" Mau kemana Ayah? " Kalimat itu meluncur dari mulut kecilnya.
 " Mau cuci mobil " Jawabku singkat dan bergegas menuju carport.

Roda belakang sebelah kiri menjadi sasaranpertama, air mengalir membasahi seirama dengan gerak tangankananku menyikat tak lama sudah terlihat hasilnya tanah dan lumpur yang menempel pada roda dan pelek si hitam rontok.

" Ayah lagi apa? " Terdengar suara Adit membuyarkan konsentrasiku
" Lagi Cuci mobil, biar bersih " sahutku menjawab pertanyaan bocah tiga tahun itu.
" Adit juga mau bantu cuci Yah " balasnya.

Ah, tahukah engkau apa artinya ketika Adit menawarkan bantuan mencuci si hitam? Tepat, main air! Akhirnya kendali di pegang olehnya dan pekerjaan tidak selesai, tak apalah bermain dengan buah hati adlah hal yang menyenangkan bagiku tentunya setiap orangtua di muka bumi, tapi pastinya si hitampun harus tetap dimandikan. Aku pikir tak ada salahnya memandikan si hitam di tempat cuci mobil sambil menikmati hari minggu spesialku jalan-jalan dengan anak dan istri, setelah istriku memandikan Adit maka kamipun meluncur.

Si hitam aku arahkan menuju Plumbon, dimana aku memiliki tempat cuci mobil langganan. Baru saja hendak keluar jalan yang ada di depan rumahku menuju persimpangan Pasar Minggu, kami sudah sedikit terjebak oleh ruwetnya jalan dikarenakan di hari minggu memang ramai hari pasaran. Rumahku terletak di kawasan Pasar Minggu tepat sesuai namanya hanya melangkahkan kaki tak kurang dari lima puluh meter engkau akan mendapati sebuah pasar sama seperti pasar biasanya ketika hari kerja tapi engkau akan mendapatkan hal berbeda di hari minggu. Di sekitar  pasar ramai oleh pedagang kaki lima yang tumpah ruah sampai di bibir jalan, pedagang menutup jalan yang menuju keramat sehingga para pengguna jalan yang menuju keramat, telaga remis, majalengka dan sekitarnya harus melalui perempatan Palimanan, berbelok ke arah SMP 1 Palimanan dan baru dapat menuju arah keramat.

Tak hanya di sekitaran pasar tapi diseberang jalan pasar minggu sejajar dengan daerah rumahku para pedagang kaki lima berjejer bahkan boleh dikatakan semerwut, mereka menawarkan ragam barang mulai dari makanan, baju, sepeda bekas sampai dengan spare part motor bekas ada di Pasar ini. Semerwut memang apa yang ku katakan tadi tapi dibalik kesemerawutan itu banyak orang yang mengais rejeki disana.

Aku cukup sulit memasuki jalan raya dikarenakan banyaknya kendaraan dari arah Bandung atau Jakarta yang berjalan lambat dan tersendat dikarenakan banyaknya orang lalu lalang menyebrang dan angkot serta mikro bus yang mengetem menunggu penumpang yang membutuhkan jasa mereka. Dengan sedikit bantuan Pak Ogah aku dapat memasuki jalan raya. oh ya kawan engkau pastinya tahu siapa itu Pak Ogah yang aku maksud ya mereka adalah orang yang membantu kendaraan untuk berputar atau menyebrang jalan dengan sedikit imbalan. dengan sedikit merambat akhirnya aku dapat melalui kesemerawutan Pasar Minggu.

Sampailah kami di Plumbon, kamipun berputar arah di mulut tol Plumbon, tempat cuci langganan kami terletak di dekat pintu keluar jalan Tol Plumbon, mendekati tempat cuci mobil sudah terlihat antrian mobil yang akan di cuci. Aku hitung ada empat mobil yang menunggu dan tiga mobil sedang dikerjakan oleh beberapa pekerja di cucian tersebut.

" Ini sih bakal sampe siang kayanya " Aku berbicara pada istriku yang sedang sibuk menanggapi kicauan Adit.
" terus gimana Yah? " Ia merespon pembicaraanku, sepertinya Ia pun tak ingin menghabiskan hari itu di tempat pencucian mobil.
" Ke Tengah Tani aja Yah " sambungnya.

Selain di Plumbon memang kami memiliki tempat cucian langganan lainnya di Tengah Tani, nama daerah sesudah Plered dan sebelum Kedawung. Sebenarnya untuk kepuasan hasil di Plumbon memberikan servis yang lebih baik tak hanya bagian eksterior di cuci namun interiorpun di cuci, dan itu tidak dilakukan oleh tempat cuci yang berada di tengah Tani. Engkau pastinya berpikir ah pasti sama saja kok perlakuan terhadap interiornya, tidak kawan! di tempat langganan ku ini interior di cuci dengan sebuah bisa yang telah di celupkan terlebih dahulu pada air yang telah diberi sabun mulai dari dashboard, dek bawah sampai dengan jok mobil serta kaca-kaca lalu yang terakhir adalah dilakukan penyedotan debu dengan vakum cleaner. Ditempat cuci lain interior mobil hanya dilakukan penyedotan debu, mengelap dasboard saja. konsekuensi dari pengerjaan semua itu waktu yang digunakan untuk mencuci sebuah mobil bisa mencapai waktu satu setengah jam.   

Sudah diputuskan oleh kami untuk menuju Tengah Tani, ditempat ini tak seramai di Plumbon hanya menunggu sebentar si hitam sudah mendapat giliran dan di cuci, hasilnya tak terlalu mengecewakan. Setelah mencuci si hitam tak langsung pulang,  Aku ingin mengajak isteri dan anakku berkeliling Cirebon. Berkeliling kota di hari minggu jarang kami lakukan biasanya hanya kami habiskan di rumah hanya sekedar bermain dengan Adit atau mengobrol banyak hal, oh ya itupun kalau kami tak pulang menengok orang tua di Indramayu.

Setealah puas berkeliling, sudah saatnya kami kembali kerumah. Jalanan ramai lancar, tak ada kemacetan berarti hanya yang pasti kurasakan adalah panas cukup menyengat siang itu sekitar pukul empat belas. Selain sinar matahari yang cukup terik, pendingin ruangan si hitam membutuhkan perwatan dan belum sempat aku lakukan.  Aku memberhentian si hitam ketika traffic light plumbon menyalakan lampu merah, begitu pula kendaraan di depan dan belakangku menunggu sekitar enampuluh detik hingga lampu hijau menyala.

Setelah lampu hijau menyala, kami melanjutkan perjalanan. beberapa mobil kecil dan motor melesat meninggalkan kami.Gaya mengemudiku memang tidak suka terlalu dalam menginjak pedal gas, bagiku pelan saja namun pasti sampai tempat tujuan. Di depan kami sebuah truk besar berjalan dengan tenang sama sepertiku, di depan Pabrik Tekstil Plumbon sebetulnya hendak ku lewati akupun mengambil jalur kiri karena truk besar berwarna hijau itu berada di lajur kanan. tiba-tiba saja dari arah belakangku sebuah sepeda motor tipe cub atau yang biasa disebut motor bebek di daerahku mendahului lami dan tentunya truk besar hijau itu. Tak ada tanda apapun sebelumnya mendadak sepeda motor yang dikendarai oleh lelaki dan perempuan itu oleng dan terjatuh di depan truk besar mungkin berjarak kurang dari lima meter kawan antara motor dan truk besar itu.

" Ya Tuhan " pekikku dalam hati melihat kejadian itu.Ku lihat kedua orang itu terkapar di tengah jalan, si perempuan terjatuh kesebelah kanan dan si lelaki yang menyetir terjatur di sebelah kiri. Kawan tentunya bayanganku dan engkau tentunya sama akan kejadian selanjutnya. Truk itu berderit mengerem, aku yakin sopir truk itu menginjak pedal dengan kuat dan dalam, truk itu dibelokan ke arah kiri untuk menghindari kedua orang yang terjatu itu, si perempuan lolos dari terjangannya tapi motor dan si pengendara terseret truk itu semua terjadi begitu cepat dan dalam hitungan detik.

" Aaaaaaaaaaa ya Allah, ya Allah" teriak isteriku melihat kejadian itu.
" Ayah itu orangnya kelindas " sambungnya, terlihat wajah pucat istriku.
 " Tenang, Ndanya jangan panik " Aku berusaha menenangkannya.

Walaupun jujur aku tak kalah panik dan terkejutnya. Namun Aku dapat mengendalikan si hitam dan berhenti sekitar lima meter dibelakang truk besar berwarna hijau itu. Aku besyukur ketika Aku mengerem si hitam mendadak tak ada kendaraan yang sangat dekat denganku, tak dapat kubayangkan selain kejadian di depanku mungkin saja terjadi tabrakan beruntun.

Seumur hidupku kejadian ini adalah hal yang paling mengerikan terjadi di depan hidungku, aku yang tepat beberapa meter di belakang peristiwa itu terpaku. Sejurus kemudian dari samping kanan truk itu muncul kondektur yang langsung terduduk lemas sambil berteriak histeris, sedangkan korban perempuan mampu bangkit dan menggedor pintu pengemudi. Gedorannya di iringi tangis dan teriak histeris akan si pengendara yang masih tak diketahui keadaannya di kolong gajah berpenggerak ribuan tenaga kuda itu tapi si pengemudi tak turun juga, Aku yakin si pengemudi lebih histeris dan mematung di dalam ruang kemudinya.

Aku tersadar dari keterpakuanku, para pelintas lain mulai berdatangan. Kulihat dari sepion si Hitam kendaraan lain yang datang dari arah belakangkupun telah berhenti, beberapa orang mulai terlihat membantu dari pandanganku belum terlihat bagaimana keadaan si lelaki pengendara motor yang berada di kolong truk. Mereka yang menolong memberikan aba-aba pada pengemudi untuk tidak menggerakan kendaraannya dan memberikan isyarat pada kami untuk melintas mendahului truk itu.

Aku sempat tak bergeming mendapat isyarat itu, bukan apa-apa kawan Aku hawatir akan apa yang aku lihat ketika melaluinya, Aku mulai bergerak perlahan pandanganku tak lepas memandang bagian bawah truk itu sedikit demi sedikit ku lihat sesosok tubuh itu, saat itu keringat dingin sudah membasahi telapak kaki dan tanganku karena Aku memiliki trauma tersendiri akan darah. Tak kulihat darah menggenang seperti bayanganku sesosok tubuh itu terlihat bersimpuh lutut kanannya menopang tubuh tapi bagian telapak kakinya kemungkinan terjepit oleh ban truk itu. Rupanya Tuhan masih memberikan kehidupan dan keajaiban baginya ketika ku melintas bagian depan motor yang dinaiki si korban terlihat rusak parah terlidas truk mungkin si pengendara terlindungi oleh motornya.

Istriku sudah sedikit tenang setelah kami menjauh, sedangkan Adit mulai bertanya kenapa motor itu terjatuh.
" Ayah kenapa motornya jatuh? " celotehnya
" Bannya meletus " jawabku, kesimpulan itu aku dapatkan karena daerah yang kami lalui tidak ada jalan yang bergelombang namun motor itu terjatuh.
"Hati-hati Yah kalau naik motor" begitulah istriku mengingatkanku untuk berhati-hati ketika mengendarai motor.
Selanjutnya perbincangan kami tak jauh dari bagaimana keadaan si pengendara itu, apapun keadaannya Kami berharap ia masih dilindungi oleh Allah dan memberikan pelajaran bagiu untuk selalu mengecek kondisi kendaraan sebelum bepergian serta membuatku bersyukur di hari spesial itu masih diberi nikmat pertambahan umur, kejadian itu pula sedikit mempengaruhi nafsu makanku haru itu padahal sebelumnya lambungku meminta diisi.






 

      




Minggu, 09 Maret 2014

Aku dan Blog, Selamat Datang di Duniaku!

Blog ini sebetulnya adalah blog pertamaku, tapi entah aku seperti yang sungkan untuk membuat konten didalamnya. Terlalu banyak yang ingin aku tuangkan khususnya gairah menulis tentang sosial ekonomi dan kehidupan politik yang sering aku jumpai.

Saat itu Aku tak benar-benar memiliki kemampuan dalam menulis blog, walaupun sebetulnya aku memiliki dasar penulisan yang didapatkan ketika aku menjadi anggota sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Kalau kau ingin tahu Lembaga Pers Mahasiswa apa yang menjadi organisasiku kala kuliah dulu tentunya tak akan aku ceritakan sekarang, esok atau lusa aku tak tahu tapi sebuah keniscayaan aku akan ceritakan kepadamu kawan.

Kembali pada ceritaku di awal tentang blog ini, entah bagaimana aku mengetahui seorang kawan lama, kawan dari kawan satu kos ku dulu ketika berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di sebuah kota kecil di jawa tengah. Sepertinya pertanyaanmu tak akan ku jawab sekarang ini dimana aku berkuliah dulu sama seperti tentang organisasi akan ku ceritakan nanti, sabar karena konon katanya orang sabar di sayang tuhan. Dan Aku setuju!

Kawan dari kawan satu kosku itu bernama Eko mahir dalam membuat blog, dalam bahasa jawa Eko berarti satu dan tentunya kita dapat dengan mudah menebak apa yang melatar belakangi kawanku itu di beri nama eko. Ya benar, namanya merupakan representasi keberadaan dirinya yang merupakan anak pertama hasil perkawinan antara Bapak dan Ibunya yang sampai sekarang aku tidak juga mengetahui nama kedua orang tuanya itu.

Aku bertanya kepadanya bagaimana membuat blog dan bagaimana cara agar blog ini bisa mendapatkan perhatian dari banyak pembaca blog karena aku yakin sangat banyak blog di dunia maya. Sebagai seseorang yang telah berhasil membuat blog dia menanyakan tema blog yang akan aku buat apa dan siapa pembacanya, akupun bercerita ingin membuat blog yang berisi tentang ekonomi, sosial dan politik. Eko memberikan saran padaku bahwa sebaiknya blog yang akan aku buat jangan lah terlalu berat jika ingin mendapatkan banyak pembaca dikarenakan tema yang akan aku angkat cukup berat dan pembacanya sangat segmented.

Mendapatkan pengarahan seperti itu aku terpekur, harap dimaklumi kawan keinginanku untuk mendapatkan banyak pembaca sangat menggebu selain itu birahi akan tema itu seperti yang akan meledak di kepalaku dan butuh penyaluran.

Galau, kata yang sering di ucapkan oleh remaja tanggung zaman sekarang melandaku disatu sisi aku menginginkan idealisme ku tersalurkan dan di sisi yang lain aku ingin tulisanku banyak dibaca, dan akhirnya pertentangan diri ini membuat blog itu tidak berisi satu buah kontenpun, mangkrak!

Kawanku Eko memberikan satu lagi wejangan dalam membuat blog yaitu tulislah apa yang aku suka katanya, Karena dengan menulis yang aku suka maka blog itu akan berkeainambungan. Kembali aku memutar otak tentang hal yang aku sukai ada banyak hal yang aku sukai antara lain makan, tidur tapi tentunya kedua bahasan itu bukan lah hal yang menarik untuk aku ceritakan kepada engkau kawan. Pada akhirnya aku mendapatkan tema blognya tentang otomotif, hal - hal yang berbau otomotif memang menjadi kegemaranku semenjak kecil. Orang tuaku dahulu sering membelikanku mobil-mobilan atau motor-motoran dan ketertarikanku terhadap dunia otomotif mungkin juga karena turunan walaupun untuk hal yang satu ini mungkin kurang ilmiah. Aku sebut turunan karena dahulu ayahku sering berganti mobil namun bukan hanya untuk kesenangan akan tetapi beliau berbisnis jual beli mobil sebagai tambahan penghasilan disamping pekerjaan utamanya menjadi abdi negara. Dari usaha sampingan ayahku itulah aku mengetahui berbagai macam mobil dan akhirnya menjadi hobiku pula, finally www.derumesin.blogspot.com tercipta karena kecintaanku pada dunia otomotif itu sebagai Blog kedua ku dan blog pertama yang kubuat tetap kosong.

www.derumesin.com dibuat pertengahan mei tahun 2013 dan sampai saat ini sudah dua ribu orang lebih pengunjung, jumlah yang sedikit mungkin untuk hitungan pengunjung namun cukup lumayan untuk ukuranku dikarenakan blog itu mengalami kevakuman cukup lama dan baru aku urus akhir tahun ini barulah jumlah pengunjungnya menanjak.

www.anaksemestaraya.blogspot.com, masih ada di dashboard blog ku kan membuatku gerah karena tidak ada kontennya, aku kembali memikirkan tentangnya, tema apa yang aku angkat kembali menjadi pemikiranku. Suatu hari dalam perjalananku menuju kantor, seperti yang mendapatkan ilham mengapa blog ini tak aku isi dengan hal-hal yang terjadi dalam hidupku tentang apa yang ku lihat dan kurasakan tentang semua hal, tentang sudut pandangku melihat kehidupan dan yang terjadi di sekitarku. Aku pikir sudut pandangku dalam menyikapi suatu hal bisa saja sama atau berbeda sama sekali dan perbedaan adalah sesuatu hal yang indah dan perlu untuk di pupuk sepanjang dapat membangun dan mencptakan pemikiran yang baru hasil dari perbedaan itu. Dan akhir kata selamat membaca, selamat datang di duniaku ....