Rabu, 05 November 2014

Sepeda Motor

Sepeda motor adalah benda yang tak asing bagiku, karen semenjak kecil Aku sudah menyukai kendaraan roda dua ini. Namun baru Aku memilikinya saat memasuki kelas dua Sekolah Menengah atas ketika anak-anak di daerahku sudah membawa motor ke sekolah.

Ada cerita mengapa Aku baru bisa memiliki motor saat usiaku baru akan menginjak tujuh belas tahun, dari cerita ibuku akhirnya Aku tahu dahulu Ayahku mengalami kecelakaan yang cukup saat mengendarai motor dan dampaknya masih terasa hingga usianya yang sudah senja kini. Dampaknya yang Aku tahu Ia sedikit kehilangan keseimbangan ketika mengemudi mobil, Ayah tak dapat mengambil lajur kanan terlalu lama ketika melaju di jalan bebas hambatan dan efek lainnya adalah sering merasakan pusing.

Saat Aku memasuki bangku sekolah menengah pertama beberapa anak yang cukup dianggap mampu secara ekonomi sudah membawa motor, adalah seorang teman sekelasku, Toni. Ia membawa sebuah motor keluaran Yamaha baru dan gress, F 1 ZR. Berwarna merah, menggunakan velg racing silver berbentuk bintang dan menggunakan kopling manual. Seingatku itu adalah motor bebek paling oke pada zamannya sangat sporty dibandingakan dengan motor bebek lainnya dan tentu saja langsung menjadi barang dagangan paling laris pabrikan berlambang garpu tala itu.

Toni merupakan anak dari seorang saudagar beras terkenal di daerahku orangtuanya juga memiliki sebuah rumah makan. Aku dan Toni cukup dekat sehingga Aku cukup sering bermain bersama tentunya mengendarai motor merah miliknya itu. Dengan kemurahan hatinya juga Aku mengendarai motor walau Aku memang sudah diwanti-wanti oleh orang tuaku untuk mengendarai motor.

Lambat laun ibuku mengetahui Aku sering mengendarai motor dan dinasihati agar menghentikan aktifitasku. Sebetulnya kehawatiran ayah dan ibu sangat masuk akal selain trauma akan kecelakaan yang menimpa Ayah dahulu alasan lainnya karena kami tinggal di jalur tengkorak pulau jawa dan remaja yang mengendarai motor itu sebagian ceroboh dan ugal-ugalan tak luput menjadi korban.

Ayah dan ibu sangat menghawatirkan aku yang sering mencuri kesempatan mengendarai motor Toni dan akhirnya pada suatu hari Ayah bicara padaku akan kehawatirannya dan menegaskan kembali melarangku mengndarai motor Aku kecewa, karen sebetulnya Aku menginginkan sepeda motor juga sama seperti milik Toni. Ayah dan Ibuku sebetulnya mampu untuk membelikanku sebuah motor tapi mereka tidak memberikannya padaku.

" Ayah hawatir nak, kamu sering mengendarai motor. Bukannya Ayah tak mau membelikan tapi kamu tahu mobil yang melintas adalah kendaraan berat dan kencang " begitulah Ayah menasihati, Aku hanya diam menunduk.
" Ayah sudah merasakan sendiri akibatnya, dan tidak mau terulang padamu" Aku masih tertunduk menahan kekecewaanku.
" Motor tidak memberikan perlindungan sama sekali buat kmu, sedikit terserempet saja kmu bisa terpelanting jauh, daripada kamu pakai motor kamu lebih baik belajar mobil karena lebih aman " Kalimat terakhir yang di ucapkan Ayah sedikit membuatku kaget bercampur gembira dan tak percaya Aku dilaranga mengendarai motor tapi diizinkan untuk mengemudikan mobil.
" beneran Yah? " tanyaku memotong pembicaraannya, tentunya Aku girang bukan kepalang.
" Iya " sahutnya mendengar pertanyaanku.

Selanjutnya Aku sering berlatih mengemudi dan saat memasuki kenaikan kelas Aku sudah cukup mahir,  oops maaf kawan sedikit melebar tapi memang Aku lebih dahulu diizinkan mengamudikan mobil dibandingkan mengendarai motor.

Memasuki Sekolah Menengah Atas Aku masih belum di berikan izin untuk memiliki motor, sampai pada suatu saat ketika Aku telah duduk di bangku kelas dua Ayah memanggilku. Saat itu yang Aku pikirkan mungkin Ayah akan menanyakan masalah akedemik tapi dugaanku meleset karena Ayah memberitahukanku bahwa beliau telah membelikanku sepeda motor.
Sepeda motor itu akhirnya datang juga, bermerk Sanex. tentunya engkau yang tumbuh dan dewasa di tahun 2000a tidak asing dengan merk ini sebuah merk yang berasal dari negeri Cina bentuknya merupakan kloning dari Honda Supra X uniknya motor itu berwarna emas kawan bling bling bukan?
 Motor yang dinantikan hatiku senang, namun ada pesan dari Ayahku isinya adalah agar aku berhati-hati dalam mengendarainya, yang kedua kondisi sepeda motor itu jangan dirubah. Sebagai ABG tentunya bukan ABABIL jiwa mudaku masih bergelora, untuk kebut-kebutan okelah aku tidak begitu bernafsu tapi untuk membiarkan motor bertampang standard menjadi masalah buatku waktu itu.

Mempreteli body motor di usiaku saat itu bahkan untuk ABG zaman sekarang masih tergolong UP DATE, langkah awal mempreteli motorku cukup dengan mecopot kedua spion kawan karena sebagaimana kalian tahu spion standar sama sekali tidak modis bahkan beberapa kawanku menyebut sebagai spion doa dikarenakan bentuknya seperti tangan orang yang sedang  berdoa menengadah ke atas. Senin sampai dengan sabtu pagi semua berjalan aman karena Ayahku bekerja di kota lain tak sama dengan tempat kami tinggal, sabtu sore adalah jadwal Ayahku pulang dan Aku harus bergegas kembali memasangkan spion doa itu betul saja kawan begitu datang beliau menanyakan bagaimana motornya?
"gimana motornya?" tanya Ayahku sambil melihat kondisi motor
"Alhamadulillah enak dipakenya" jawabku
Tak panjang pembicaraan kami karena memang Ayahku yang irit bicara mungkin lebih irit dari mobil murah ataupun mobil hybrid yang sekarang sedang laris manis kaya teh botol.

Ayahku tipe orang yang ortodok untuk penampilan mobil atau motor karena menurutnya kendaraan yang nayaman digunakan adalah yang standard pabrikan tak perlu di ini itu kan lagi, sayang sekali anaknya tak seperti itu dan maaf kan Aku Pak aku selalu membohongimu di hari kerjamu. suatu ketika Aku terkena batunya sepulang sekolah aku tertidur dan sorenya di hari sabtu itu Ayahku sudah datang dan woops Ayahku yang pendiam itu menjadi lebih diam dan lebih dingin dari es batu. Kalaulah sudah begitu Ibuku menasihatiku katanya "motor yang diberikan Ayahku untuk macam-macam" dan Aku hanya bisa medndengarkan dengan seksama dan tempo sesingkat-singkatnya. Karena setelah itu kasus pencopotan spion terulang kembali dengan modus yang sama.

Menginjak kelas 3 SMA, Aku mendapatkan motor idamanku dahulu yaitu Yamaha F 1 ZR, warnanya hitam  tahun pembuatan 1999. Jujur sebetulnya agak kewalahan juga mengurusi motor jenis 2 langkah ini dikarenakan sebagai ABG Aku memiliki frekwensi nongkrong yang lumayan sering dan terkadang menjadi motor inventaris tongkrongan maka terasalah bagiku rasanya menikmati motor 2 langkah yang boros.

sampai saat ini Aku masih menggunakan motor untuk menunjang aktifitasku, Honda Supra X 125 inventaris kantor menjadi andalan bukan karena tidak mampu membeli motor tapi memang tidak ada uangnya. Bermotor bagiku hal yang mengasikkan selain irit dan gesit bermotor juga mendekatkan diri dengan alam karena ketika melewati pedesaan Aku bisa menikmati segarnya udara desa apalagi tempatku bekerja di pegunungan dan ketika Aku berada di belakang bus atau truck aku juga bisa merasakan sesaknya Co2, hey hidup ga semuanya indah dan segar seperti alam pedesaan tapi juga ada sesaknya seperti kamu menunggangi motor dibelakang bus atau truk yang sudah tidak bagus lagi pembakarannya mengeluarkan asap hitam yang menyesakkan dada.