Jumat, 19 September 2014

Sebuah Peristiwa di Hari Spesial


Masih terbayang olehku kejadian hari itu hingga kini, tak akan dan pasti akan tersimpan dalam tumpukan ingatanku, hal yang sangat mengerikan mungkin selama ini hanya ke lihat di layar televisi, Aku yakin jika engkau menyaksikannya langsung sepertiku kaupun akan menganggapnya mengerikan pula

Hari itu sama seperti hari minggu yang lainnya bagimu kawan tapi tidak bagiku hari yang spesial, tepat tiga puluh tahun yang lalu untuk pertama kalinya menghirup udara segar, merasakan hangatnya sinar mentari pagi. Ya hari minggu sembilan maret dua ribu empat belas adalah hari ulang tahunku.

Sebuah kecupan dan ucapan selamat dari istriku membuka hari itu, ku lempar pandanganku ke sisi lain ranjang anakku masih terlelap. Sangat indah bukan, momen spesial ditemani oleh orang tercinta. Belum juga aku beranjak suara BlackBerry Messenger terdengar dari ponselku yang bukan bermerk sama dengan layanan instan yang aku pasang, aku buka sebuah ucapan selamat dari seorang kawan. Andry Wahyudi adik angkatanku saat kuliah Ia juga adik dari kawanku Hary Kusuma, Ia mengucapkan selamat atas bertambahnya umurku disertai doa dan ku balas dengan ucapan terimakasih serta ucapan selamatku atas kemenangan tim sepkabola yang ia idolakan, tak hanya Andry kawan-kawan dan saudaraku hari itu silih berganti mengucapkan selamat.

Hari itu bukan lah minggu yang cerah, sedikit awan hitam bergelayut di atas langit cirebon. Tak ada rencana khusus untukku di hari spesial itu, mencuci si hitam adalah rencanaku. sudah beberapa hari ia tak mandi tentunya berdampak pada penampilannya yang menjadi kurang menarik. Semula aku akan memandikannya sendiri tetapi aku urung melakukannya karena Adit, anakku yang sudah terbangun dan sedang menonton kartun kesayangannya menanyakan apa yang akan ku lakukan ketika aku membawa peralatan cuci mobil.

" Mau kemana Ayah? " Kalimat itu meluncur dari mulut kecilnya.
 " Mau cuci mobil " Jawabku singkat dan bergegas menuju carport.

Roda belakang sebelah kiri menjadi sasaranpertama, air mengalir membasahi seirama dengan gerak tangankananku menyikat tak lama sudah terlihat hasilnya tanah dan lumpur yang menempel pada roda dan pelek si hitam rontok.

" Ayah lagi apa? " Terdengar suara Adit membuyarkan konsentrasiku
" Lagi Cuci mobil, biar bersih " sahutku menjawab pertanyaan bocah tiga tahun itu.
" Adit juga mau bantu cuci Yah " balasnya.

Ah, tahukah engkau apa artinya ketika Adit menawarkan bantuan mencuci si hitam? Tepat, main air! Akhirnya kendali di pegang olehnya dan pekerjaan tidak selesai, tak apalah bermain dengan buah hati adlah hal yang menyenangkan bagiku tentunya setiap orangtua di muka bumi, tapi pastinya si hitampun harus tetap dimandikan. Aku pikir tak ada salahnya memandikan si hitam di tempat cuci mobil sambil menikmati hari minggu spesialku jalan-jalan dengan anak dan istri, setelah istriku memandikan Adit maka kamipun meluncur.

Si hitam aku arahkan menuju Plumbon, dimana aku memiliki tempat cuci mobil langganan. Baru saja hendak keluar jalan yang ada di depan rumahku menuju persimpangan Pasar Minggu, kami sudah sedikit terjebak oleh ruwetnya jalan dikarenakan di hari minggu memang ramai hari pasaran. Rumahku terletak di kawasan Pasar Minggu tepat sesuai namanya hanya melangkahkan kaki tak kurang dari lima puluh meter engkau akan mendapati sebuah pasar sama seperti pasar biasanya ketika hari kerja tapi engkau akan mendapatkan hal berbeda di hari minggu. Di sekitar  pasar ramai oleh pedagang kaki lima yang tumpah ruah sampai di bibir jalan, pedagang menutup jalan yang menuju keramat sehingga para pengguna jalan yang menuju keramat, telaga remis, majalengka dan sekitarnya harus melalui perempatan Palimanan, berbelok ke arah SMP 1 Palimanan dan baru dapat menuju arah keramat.

Tak hanya di sekitaran pasar tapi diseberang jalan pasar minggu sejajar dengan daerah rumahku para pedagang kaki lima berjejer bahkan boleh dikatakan semerwut, mereka menawarkan ragam barang mulai dari makanan, baju, sepeda bekas sampai dengan spare part motor bekas ada di Pasar ini. Semerwut memang apa yang ku katakan tadi tapi dibalik kesemerawutan itu banyak orang yang mengais rejeki disana.

Aku cukup sulit memasuki jalan raya dikarenakan banyaknya kendaraan dari arah Bandung atau Jakarta yang berjalan lambat dan tersendat dikarenakan banyaknya orang lalu lalang menyebrang dan angkot serta mikro bus yang mengetem menunggu penumpang yang membutuhkan jasa mereka. Dengan sedikit bantuan Pak Ogah aku dapat memasuki jalan raya. oh ya kawan engkau pastinya tahu siapa itu Pak Ogah yang aku maksud ya mereka adalah orang yang membantu kendaraan untuk berputar atau menyebrang jalan dengan sedikit imbalan. dengan sedikit merambat akhirnya aku dapat melalui kesemerawutan Pasar Minggu.

Sampailah kami di Plumbon, kamipun berputar arah di mulut tol Plumbon, tempat cuci langganan kami terletak di dekat pintu keluar jalan Tol Plumbon, mendekati tempat cuci mobil sudah terlihat antrian mobil yang akan di cuci. Aku hitung ada empat mobil yang menunggu dan tiga mobil sedang dikerjakan oleh beberapa pekerja di cucian tersebut.

" Ini sih bakal sampe siang kayanya " Aku berbicara pada istriku yang sedang sibuk menanggapi kicauan Adit.
" terus gimana Yah? " Ia merespon pembicaraanku, sepertinya Ia pun tak ingin menghabiskan hari itu di tempat pencucian mobil.
" Ke Tengah Tani aja Yah " sambungnya.

Selain di Plumbon memang kami memiliki tempat cucian langganan lainnya di Tengah Tani, nama daerah sesudah Plered dan sebelum Kedawung. Sebenarnya untuk kepuasan hasil di Plumbon memberikan servis yang lebih baik tak hanya bagian eksterior di cuci namun interiorpun di cuci, dan itu tidak dilakukan oleh tempat cuci yang berada di tengah Tani. Engkau pastinya berpikir ah pasti sama saja kok perlakuan terhadap interiornya, tidak kawan! di tempat langganan ku ini interior di cuci dengan sebuah bisa yang telah di celupkan terlebih dahulu pada air yang telah diberi sabun mulai dari dashboard, dek bawah sampai dengan jok mobil serta kaca-kaca lalu yang terakhir adalah dilakukan penyedotan debu dengan vakum cleaner. Ditempat cuci lain interior mobil hanya dilakukan penyedotan debu, mengelap dasboard saja. konsekuensi dari pengerjaan semua itu waktu yang digunakan untuk mencuci sebuah mobil bisa mencapai waktu satu setengah jam.   

Sudah diputuskan oleh kami untuk menuju Tengah Tani, ditempat ini tak seramai di Plumbon hanya menunggu sebentar si hitam sudah mendapat giliran dan di cuci, hasilnya tak terlalu mengecewakan. Setelah mencuci si hitam tak langsung pulang,  Aku ingin mengajak isteri dan anakku berkeliling Cirebon. Berkeliling kota di hari minggu jarang kami lakukan biasanya hanya kami habiskan di rumah hanya sekedar bermain dengan Adit atau mengobrol banyak hal, oh ya itupun kalau kami tak pulang menengok orang tua di Indramayu.

Setealah puas berkeliling, sudah saatnya kami kembali kerumah. Jalanan ramai lancar, tak ada kemacetan berarti hanya yang pasti kurasakan adalah panas cukup menyengat siang itu sekitar pukul empat belas. Selain sinar matahari yang cukup terik, pendingin ruangan si hitam membutuhkan perwatan dan belum sempat aku lakukan.  Aku memberhentian si hitam ketika traffic light plumbon menyalakan lampu merah, begitu pula kendaraan di depan dan belakangku menunggu sekitar enampuluh detik hingga lampu hijau menyala.

Setelah lampu hijau menyala, kami melanjutkan perjalanan. beberapa mobil kecil dan motor melesat meninggalkan kami.Gaya mengemudiku memang tidak suka terlalu dalam menginjak pedal gas, bagiku pelan saja namun pasti sampai tempat tujuan. Di depan kami sebuah truk besar berjalan dengan tenang sama sepertiku, di depan Pabrik Tekstil Plumbon sebetulnya hendak ku lewati akupun mengambil jalur kiri karena truk besar berwarna hijau itu berada di lajur kanan. tiba-tiba saja dari arah belakangku sebuah sepeda motor tipe cub atau yang biasa disebut motor bebek di daerahku mendahului lami dan tentunya truk besar hijau itu. Tak ada tanda apapun sebelumnya mendadak sepeda motor yang dikendarai oleh lelaki dan perempuan itu oleng dan terjatuh di depan truk besar mungkin berjarak kurang dari lima meter kawan antara motor dan truk besar itu.

" Ya Tuhan " pekikku dalam hati melihat kejadian itu.Ku lihat kedua orang itu terkapar di tengah jalan, si perempuan terjatuh kesebelah kanan dan si lelaki yang menyetir terjatur di sebelah kiri. Kawan tentunya bayanganku dan engkau tentunya sama akan kejadian selanjutnya. Truk itu berderit mengerem, aku yakin sopir truk itu menginjak pedal dengan kuat dan dalam, truk itu dibelokan ke arah kiri untuk menghindari kedua orang yang terjatu itu, si perempuan lolos dari terjangannya tapi motor dan si pengendara terseret truk itu semua terjadi begitu cepat dan dalam hitungan detik.

" Aaaaaaaaaaa ya Allah, ya Allah" teriak isteriku melihat kejadian itu.
" Ayah itu orangnya kelindas " sambungnya, terlihat wajah pucat istriku.
 " Tenang, Ndanya jangan panik " Aku berusaha menenangkannya.

Walaupun jujur aku tak kalah panik dan terkejutnya. Namun Aku dapat mengendalikan si hitam dan berhenti sekitar lima meter dibelakang truk besar berwarna hijau itu. Aku besyukur ketika Aku mengerem si hitam mendadak tak ada kendaraan yang sangat dekat denganku, tak dapat kubayangkan selain kejadian di depanku mungkin saja terjadi tabrakan beruntun.

Seumur hidupku kejadian ini adalah hal yang paling mengerikan terjadi di depan hidungku, aku yang tepat beberapa meter di belakang peristiwa itu terpaku. Sejurus kemudian dari samping kanan truk itu muncul kondektur yang langsung terduduk lemas sambil berteriak histeris, sedangkan korban perempuan mampu bangkit dan menggedor pintu pengemudi. Gedorannya di iringi tangis dan teriak histeris akan si pengendara yang masih tak diketahui keadaannya di kolong gajah berpenggerak ribuan tenaga kuda itu tapi si pengemudi tak turun juga, Aku yakin si pengemudi lebih histeris dan mematung di dalam ruang kemudinya.

Aku tersadar dari keterpakuanku, para pelintas lain mulai berdatangan. Kulihat dari sepion si Hitam kendaraan lain yang datang dari arah belakangkupun telah berhenti, beberapa orang mulai terlihat membantu dari pandanganku belum terlihat bagaimana keadaan si lelaki pengendara motor yang berada di kolong truk. Mereka yang menolong memberikan aba-aba pada pengemudi untuk tidak menggerakan kendaraannya dan memberikan isyarat pada kami untuk melintas mendahului truk itu.

Aku sempat tak bergeming mendapat isyarat itu, bukan apa-apa kawan Aku hawatir akan apa yang aku lihat ketika melaluinya, Aku mulai bergerak perlahan pandanganku tak lepas memandang bagian bawah truk itu sedikit demi sedikit ku lihat sesosok tubuh itu, saat itu keringat dingin sudah membasahi telapak kaki dan tanganku karena Aku memiliki trauma tersendiri akan darah. Tak kulihat darah menggenang seperti bayanganku sesosok tubuh itu terlihat bersimpuh lutut kanannya menopang tubuh tapi bagian telapak kakinya kemungkinan terjepit oleh ban truk itu. Rupanya Tuhan masih memberikan kehidupan dan keajaiban baginya ketika ku melintas bagian depan motor yang dinaiki si korban terlihat rusak parah terlidas truk mungkin si pengendara terlindungi oleh motornya.

Istriku sudah sedikit tenang setelah kami menjauh, sedangkan Adit mulai bertanya kenapa motor itu terjatuh.
" Ayah kenapa motornya jatuh? " celotehnya
" Bannya meletus " jawabku, kesimpulan itu aku dapatkan karena daerah yang kami lalui tidak ada jalan yang bergelombang namun motor itu terjatuh.
"Hati-hati Yah kalau naik motor" begitulah istriku mengingatkanku untuk berhati-hati ketika mengendarai motor.
Selanjutnya perbincangan kami tak jauh dari bagaimana keadaan si pengendara itu, apapun keadaannya Kami berharap ia masih dilindungi oleh Allah dan memberikan pelajaran bagiu untuk selalu mengecek kondisi kendaraan sebelum bepergian serta membuatku bersyukur di hari spesial itu masih diberi nikmat pertambahan umur, kejadian itu pula sedikit mempengaruhi nafsu makanku haru itu padahal sebelumnya lambungku meminta diisi.